Fenomena perusahaan yang semakin selektif merekrut Gen Z mencerminkan perubahan standar profesionalisme, kebutuhan soft skills, dan transformasi dunia kerja di era AI.
JAKARTA – Dunia kerja sedang memasuki fase perubahan yang tidak sederhana. Teknologi berkembang semakin cepat, kecerdasan buatan mengubah cara pekerjaan dilakukan, sementara generasi baru hadir membawa perspektif yang berbeda mengenai karier, kepemimpinan, keseimbangan hidup, dan makna sebuah pekerjaan.
Di tengah perubahan tersebut, Generasi Z menjadi salah satu kelompok yang paling banyak mendapat perhatian. Generasi yang tumbuh bersama teknologi digital ini memasuki dunia profesional dengan keunggulan dalam adaptasi teknologi, tetapi sekaligus menghadapi ekspektasi baru dari perusahaan yang semakin menempatkan kompetensi, karakter, dan kemampuan beradaptasi sebagai bagian penting dari proses rekrutmen.
Fenomena perusahaan yang disebut semakin enggan merekrut Gen Z, sebagaimana menjadi sorotan dalam pemberitaan CNBC Indonesia, sesungguhnya menyimpan persoalan yang jauh lebih luas. Ini bukan semata tentang apakah satu generasi memiliki etos kerja yang lebih baik atau lebih buruk dibanding generasi sebelumnya. Persoalannya terletak pada perubahan hubungan antara talenta dan organisasi.
Ketika Dunia Kerja Mengubah Definisinya
Selama bertahun-tahun, ukuran keberhasilan profesional sering dikaitkan dengan jenjang karier yang linear. Seseorang masuk sebagai pekerja pemula, memperoleh pengalaman, naik jabatan, kemudian bergerak menuju posisi manajerial dan kepemimpinan.
Pola tersebut perlahan berubah.
Survei global Deloitte 2025 terhadap lebih dari 23.000 responden di 44 negara menunjukkan bahwa hanya 6% Gen Z dan milenial yang menjadikan pencapaian posisi senior leadership sebagai tujuan karier utama. Bagi generasi ini, pengembangan kemampuan, keseimbangan hidup, makna pekerjaan, serta keamanan finansial memiliki tempat yang lebih penting dalam menentukan pilihan karier.
Perubahan perspektif tersebut sering kali dibaca sebagai menurunnya ambisi. Padahal, interpretasi yang lebih tepat mungkin justru sebaliknya: ambisi masih ada, tetapi definisi tentang kesuksesan telah mengalami pergeseran.
Gen Z tidak selalu melihat karier sebagai tangga yang harus dinaiki setahap demi setahap. Mereka cenderung melihat karier sebagai perjalanan yang memungkinkan pembelajaran, mobilitas, pengalaman, serta kehidupan personal berkembang secara bersamaan.
Profesionalisme di Era Digital
Namun, fleksibilitas tidak berarti absennya standar profesionalisme.
Perusahaan tetap membutuhkan karyawan yang mampu memenuhi target, berkomunikasi secara efektif, bekerja dalam tim, menerima evaluasi, memahami tanggung jawab, serta mampu menghadapi tekanan ketika situasi bisnis menuntutnya.
Di titik inilah terdapat ruang pertemuan antara ekspektasi Gen Z dan kebutuhan perusahaan. Kemampuan digital dapat menjadi keunggulan, tetapi tidak cukup berdiri sendiri.
Deloitte menemukan bahwa lebih dari delapan dari 10 Gen Z dan milenial menilai pengembangan soft skills, seperti empati dan kepemimpinan, semakin penting bagi kemajuan karier ketika mereka bekerja berdampingan dengan GenAI.
Artinya, teknologi justru membuat kualitas manusia semakin bernilai. Ketika pekerjaan repetitif dapat dibantu mesin, kemampuan memahami manusia, membangun relasi, mengambil keputusan, berkomunikasi, dan memimpin menjadi semakin strategis.
AI dan Generasi yang Tumbuh Bersamanya
Ironisnya, Gen Z memasuki dunia kerja pada saat teknologi yang paling dekat dengan kehidupan mereka juga sedang mengubah struktur pekerjaan.
GenAI memungkinkan berbagai tugas dilakukan lebih cepat. Bagi perusahaan, teknologi tersebut membuka peluang peningkatan produktivitas. Bagi pekerja, AI sekaligus menghadirkan tuntutan untuk terus memperbarui kemampuan.
Di Indonesia, temuan PwC menunjukkan bahwa 96% pengguna GenAI setiap hari melaporkan peningkatan produktivitas. Mereka juga lebih banyak merasakan peningkatan rasa aman dalam pekerjaan dan kenaikan gaji dibandingkan pekerja yang jarang menggunakan GenAI.
Angka tersebut memberikan perspektif yang menarik. Teknologi tidak selalu menjadi lawan tenaga kerja. Dengan penggunaan yang tepat, teknologi dapat menjadi pengungkit produktivitas.
Tantangannya adalah bagaimana memastikan Gen Z tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami konteks bisnis di balik teknologi tersebut.
Antara Ekspektasi dan Kenyataan
Salah satu alasan kesenjangan antara perusahaan dan pekerja muda dapat muncul dari perbedaan ekspektasi.
Gen Z menginginkan lingkungan kerja yang memberikan kesempatan belajar, berkembang, memperoleh umpan balik, dan memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan. Perusahaan, di sisi lain, mengharapkan kontribusi yang terukur sejak seseorang bergabung.
Deloitte menemukan bahwa 86% Gen Z menilai mentoring dan guidance penting bagi pengembangan mereka, sementara 88% menganggap pengalaman praktis dan pembelajaran langsung di tempat kerja penting bagi pengembangan keterampilan.
Temuan ini menunjukkan bahwa pekerja muda sebenarnya tidak menolak proses pembelajaran. Justru mereka menginginkan pembelajaran yang lebih dekat dengan praktik nyata.
Persoalannya kemudian bukan apakah Gen Z mau bekerja keras, melainkan apakah perusahaan memiliki mekanisme yang tepat untuk mengubah potensi mereka menjadi kompetensi profesional.
Perusahaan Juga Memiliki Peran
Dalam konteks tersebut, perusahaan tidak dapat sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab adaptasi kepada kandidat atau karyawan.
Organisasi juga perlu menciptakan lingkungan yang mendukung proses pembelajaran. Data PwC Indonesia menunjukkan bahwa 72% pekerja di Indonesia merasa tim mereka memandang kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang. Namun, akses terhadap sumber daya pembelajaran masih berbeda menurut jenjang organisasi: 64% pekerja non-manajer melaporkan memiliki akses terhadap sumber belajar yang dibutuhkan, dibandingkan 89% pada level eksekutif senior.
Kesenjangan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan talenta masih menjadi pekerjaan rumah.
Bagi perusahaan, merekrut talenta muda seharusnya tidak berhenti pada proses seleksi. Organisasi perlu memikirkan bagaimana seorang pekerja baru dapat tumbuh menjadi profesional yang matang.
Mentoring, coaching, pelatihan, pengalaman lintas fungsi, serta komunikasi yang terbuka dapat menjadi investasi yang menentukan.
Mencari Titik Temu
Pada akhirnya, perdebatan tentang Gen Z dan dunia kerja tidak seharusnya menghasilkan stereotip baru.
Generasi muda memiliki kekuatan yang relevan dengan era saat ini: kedekatan dengan teknologi, keberanian mengeksplorasi cara kerja baru, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan digital.
Namun, dunia profesional juga menuntut sesuatu yang lebih mendasar: tanggung jawab, integritas, kemampuan bekerja sama, ketekunan, komunikasi, dan kesediaan untuk terus belajar.
Perusahaan pun perlu memahami bahwa talenta muda tidak dapat selalu diperlakukan dengan pendekatan yang sama seperti generasi sebelumnya. Mereka membutuhkan ruang untuk berkembang, tetapi ruang tersebut harus berjalan berdampingan dengan akuntabilitas.
Masa Depan Milik Mereka yang Adaptif
Transformasi dunia kerja pada akhirnya tidak akan dimenangkan hanya oleh generasi tertentu. Ia akan menjadi milik organisasi dan individu yang mampu beradaptasi.
Bagi Gen Z, kemampuan digital merupakan modal awal, bukan garis akhir. Mereka perlu mengubah keunggulan teknologi menjadi kemampuan profesional yang memberikan nilai nyata bagi organisasi.
Bagi perusahaan, tantangannya adalah membangun ekosistem yang mampu mengembangkan potensi tersebut tanpa mengurangi standar kinerja.
Ketika keduanya bertemu, perbedaan generasi tidak lagi menjadi sumber konflik. Ia dapat menjadi sumber perspektif baru, inovasi, dan produktivitas.
Di tengah dunia kerja yang terus berubah, profesionalisme masa depan mungkin tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa cepat seseorang menaiki tangga karier. Ukurannya akan semakin bergeser pada seberapa baik seseorang belajar, beradaptasi, menciptakan nilai, dan tetap relevan ketika dunia di sekelilingnya berubah.







