Iklan
Iklan
Iklan

November 4, 2026

Ketika Kearifan Lokal Menjadi Inovasi: DJOGOSURO Bawa Nama Malang ke Malaysia

Griselda Nuria Alisha dari MAN 1 Kota Malang meraih penghargaan di Malaysia melalui DJOGOSURO, inovasi edukasi mitigasi bencana yang memadukan budaya dan teknologi.

Ada kalanya sebuah inovasi tidak lahir dari laboratorium besar ataupun perusahaan teknologi. Ia tumbuh dari kepekaan terhadap lingkungan, dari cerita yang diwariskan masyarakat, kemudian dikembangkan melalui keberanian generasi muda untuk melihatnya dengan cara yang berbeda.

Kisah tersebut tercermin dalam perjalanan Griselda Nuria Alisha, siswi MAN 1 Kota Malang, yang membawa karya DJOGOSURO ke panggung internasional. Dalam ajang World Sustainable Development Goals Challenge (WSDG) 2026 di Malaysia, karya tersebut berhasil meraih MMU President’s Excellence Award – 2nd Runner-Up.

Penghargaan tersebut menjadi pencapaian tersendiri bagi Griselda. Ia tidak hanya membawa nama sekolah dan Kota Malang, tetapi juga menghadirkan sebuah gagasan yang mempertemukan dua elemen yang sekilas berbeda: kearifan lokal dan teknologi digital.

SPONSORED VIDEO
Tertarik dengan penawaran ini?Pilih Lihat Detail atau langsung Hubungi Kami.

Dari Lembu Suro Menuju Dunia Digital

DJOGOSURO dikembangkan melalui karya berjudul “Education Based on Local Wisdom Using Lembu Suro Cinematic VR and Website to Enhance Preparedness for Volcanic Eruption Disaster Mitigation.” Inti gagasannya adalah menghadirkan edukasi kesiapsiagaan erupsi gunung berapi dengan memanfaatkan cerita dan simbol budaya Lembu Suro.

Lembu Suro sendiri memiliki keterkaitan dengan cerita rakyat masyarakat di sekitar Gunung Kelud. Alih-alih menempatkan budaya tersebut sekadar sebagai bagian dari sejarah lokal, DJOGOSURO menggunakannya sebagai media untuk memperkenalkan pengetahuan mengenai mitigasi bencana.

Di sinilah kekuatan gagasan tersebut terlihat. Teknologi tidak digunakan semata-mata untuk memberikan kesan modern, tetapi untuk membuat materi yang memiliki kedekatan dengan masyarakat menjadi lebih mudah dipahami oleh generasi yang tumbuh di era digital.

Website DJOGOSURO dilengkapi dengan berbagai materi interaktif, termasuk video animasi, kuis, serta simulasi status aktivitas gunung. Pengguna dapat memperoleh informasi mengenai tindakan yang perlu dilakukan sebelum, ketika, dan setelah terjadi bencana erupsi.

Belajar dari Lingkungan Sendiri

Inspirasi DJOGOSURO juga tidak dapat dipisahkan dari karakter geografis Malang Raya dan kawasan Gunung Kelud. Wilayah tersebut memiliki pengalaman panjang berhadapan dengan aktivitas vulkanik, termasuk erupsi Gunung Kelud pada 2014.

Kondisi tersebut menjadikan edukasi mitigasi bukan sekadar materi akademik. Pengetahuan tentang bagaimana menghadapi bencana memiliki hubungan langsung dengan keselamatan masyarakat.

DJOGOSURO kemudian diimplementasikan di SDN Pandansari 2, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Melalui media digital, siswa mendapatkan kesempatan mempelajari mitigasi bencana dalam format yang lebih visual dan interaktif.

Pengembangan materi juga memperhatikan validitas informasi. Materi mitigasi divalidasi dengan BPBD Kabupaten Malang, sementara informasi mengenai Lembu Suro ditelusuri melalui berbagai sumber dan dikonfirmasi dengan masyarakat di kawasan lereng Gunung Kelud.

Membawa Cerita Lokal ke Panggung Internasional

WSDG 2026 menjadi ruang bagi Griselda untuk memperkenalkan gagasan tersebut kepada audiens internasional. Kompetisi berlangsung pada 24–28 September 2026 di Multimedia University, Cyberjaya, Malaysia.

Dalam WSDG 2026 International Awarding Ceremony yang berlangsung pada 26 September di Tun Chancellor Hall, Griselda menerima penghargaan, piala, medali, serta hadiah sebesar RM850.

Lebih dari sekadar capaian kompetisi, pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana persoalan lokal dapat memperoleh ruang dalam percakapan internasional ketika dikemas melalui pendekatan inovatif.

Gagasan mengenai mitigasi erupsi Gunung Kelud yang berangkat dari lingkungan Malang kemudian dipresentasikan di Malaysia. Perjalanan tersebut menjadi contoh bahwa nilai lokal dapat memiliki relevansi yang lebih luas ketika diterjemahkan ke dalam bahasa teknologi, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan.

Kepemimpinan yang Tumbuh dari Pengalaman

Perjalanan Griselda juga menarik karena inovasi tersebut hadir bersamaan dengan pengalaman kepemimpinannya di sekolah. Ia sebelumnya dipercaya menjadi Ketua OSIS MAN 1 Kota Malang periode 2025/2026.

Pengalaman organisasi dan pengembangan inovasi menjadi dua proses yang saling melengkapi. Kepemimpinan memberikan ruang untuk belajar bekerja bersama orang lain, sementara proyek DJOGOSURO memberikan pengalaman dalam mengidentifikasi masalah dan mengembangkan solusi.

Kombinasi tersebut memperlihatkan wajah pendidikan yang lebih luas. Sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga ruang untuk melatih keberanian, kreativitas, kepemimpinan, dan kemampuan menyelesaikan persoalan.

Sebuah Penghargaan, Sebuah Awal

Bagi sebuah karya inovasi, penghargaan internasional tentu menjadi pencapaian penting. Namun, perjalanan DJOGOSURO tidak semestinya berhenti pada panggung penghargaan.

Masih terdapat ruang untuk mengembangkan platform tersebut, baik dari sisi teknologi maupun cakupan penggunaannya. Materi dapat diperluas, fitur dapat disempurnakan, dan penggunaannya dapat dikembangkan untuk sekolah-sekolah lain yang berada di kawasan rawan bencana.

Yang paling penting, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa inovasi pendidikan dapat tumbuh dari hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Cerita lokal, lingkungan tempat tinggal, pengalaman masyarakat, dan persoalan keselamatan dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda.

Prestasi Griselda Nuria Alisha dan DJOGOSURO akhirnya menjadi lebih dari sekadar catatan penghargaan. Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah gagasan sederhana dapat tumbuh melalui proses, keberanian, riset, dan teknologi hingga akhirnya menembus batas negara.

Dari Malang menuju Malaysia, Lembu Suro mendapatkan ruang baru di dunia digital. Dan melalui karya seorang pelajar, kearifan lokal kembali menunjukkan bahwa nilai sebuah budaya dapat terus hidup ketika generasi berikutnya mampu menerjemahkannya dalam bentuk yang relevan dengan zamannya.

Share TO
Facebook
Email
WhatsApp
Telegram